Jumat, 12 November 2010

Allah swt Tidak Akan Mengecewakan Rasulullah saw
Senin, 01 November 2010


قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّيْ رَسُولُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw : “Sungguh Aku Rasulullah, dan Allah swt tidak akan mengecewakanku selama lamanya” (Shahih Bukhari)

ImageAssalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ الطَّيِّبَةِ الطَّاهِرَةِ...

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata'ala Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan keluhuran sepanjang waktu dan zaman kepada hamba-hamba yang telah menyiapkan sanubari dan dirinya untuk dilimpahi keluhuran. Keluhuran yang Allah limpahkan itu datang dengan kedatangan para nabi dan rasul sampai pada akhir pembawa keluhuran terluhur, nabi yang paling luhur dan menjadi terluhurkan semua pengikut beliau, sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Pemimpin hamba yang menuntun kepada keluhuran hingga terluhurkanlah jiwa dari gelapnya kehinaan menuju puncak-puncak keluhuran, dari jurang-jurang dosa menuju puncak-puncak kesucian, dari jurang-jurang kemurkaan Allah menuju puncak-puncak keridhaan Allah, dari samudera kesalahan menuju samudera pengampunan dari Maha Raja langit dan bumi Yang tiada berhenti memandang setiap hamba-Nya, dan memelihara hamba-Nya sejak mereka masih di alam rahim bahkan sebelum mereka di alam rahim hingga mereka hidup di muka bumi dan kemudian wafat, sungguh tidak ada yang selalu bersamamu kecuali Allah subhanahu wata'ala. Dia selalu bersamamu disaat engkau berada di alam ruh, kemudian engkau di alam rahim lalu di alam dunia, hingga engkau di alam barzakh. Dialah Allah Yang selalu bersama kita di setiap detik dan kejap, tidak sedetik atau sekejap pun engkau lepas dari kebersamaan Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

(الحديد: 4)

"Dan Dia (Allah) bersama kamu di mana saja kamu berada, dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan" (QS. Al Hadid: 4)

Sang Maha Luhur selalu bersama kita dan bagaimana dengan diri kita, bagaimana dengan sanubari kita, berapa detik sanubari kita bersama Allah, dalam usia kita yang telah lewat berapa detik kerinduan kita kepada Allah, berapa banyak hal yang kita ingat selain Allah, berapa banyak kita mengingat Allah, berapa banyak kita tidak mengingat Allah, berapa banyak kalimat yang kita ucapkan dari nama selain Allah, manakah yang lebih banyak kita ucapkan, nama Allah ataukah nama makhluk-Nya?, ucapan yang diridhai Allah ataukah yang dimurkai-Nya?, ucapan yang mulia di sisi Allah ataukah yang tiada berarti di sisi-Nya?. Hadirin hadirta, semua ini memanggil kita untuk semakin dekat kepada Yang Maha memaafkan, memanggil kita dan mengingatkan kita untuk mendekat kepada Yang Maha mengubah segala kejadian. Ingatlah di hari esokmu, Sang Maha pengatur tetap akan mengatur. Musibah dan kenikmatan berada dalam satu genggaman tunggal, berapa ribu musibah yang masih akan datang kepadamu dan berapa ribu kenikmatan yang akan datang kepadamu di masa mendatang, Sang Maha melihat sedang melihatmu dan akan terus melihatmu, barangkali hingga detik ini ada segelintir detik dalam sanubarimu menangis ingin dekat kepada Allah, maka Allah angkat ribuan musibah sebelum engkau ketahui dan engkau dilimpahi rahmat dan beribu kenikmatan tanpa engkau sadari. Hadirin hadirat, Sang Maha mengatur akan tetap mengatur, Sang Maha mementukan akan tetap menentukan, Sang Maha memudahkan mampu melimpahkan kemudahan, Sang Maha memberi cobaan mampu memberi cobaan dan mampu menggantikannya dengan kenikmatan. Di bulan yang luhur ini kita mengingat kejadian agung, yaitu perjanjian Hudaibiyah yang terjadi pada bulan Dzulqa'dah tahun 6 H. Sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari Madinah Al Munawwarah bersama 1400 kaum muslimin menuju Makkah untuk melakukan ibadah umrah dan bukan untuk maksud peperangan dan kekerasan dengan senjata, tetapi mereka membawa hewan ternak untuk disembelih sebagai hewan kurban, maka terdengar kabar oleh kaum kuffar quraisy bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menuju Makkah bersama 1400 kaum muslimin untuk melakukan ibadah di Makkah. Maka kaum Quraisy mengirim seorang utusan (Urwah) untuk datang kepada Rasulullah dan menanyakan maksud kedatangan beliau ke Makkah. Maka Rasulullah menjawa : "bukankah kalian saudara kami, dan aku datang bersama kaum muslimin dengan kedamaian bukan untuk perang, lihatlah pakaian kami, lihatlah yang kami bawa adalah hewan-hewan ternak yang akan kami sembelih disana, apakah kalian melihat kami membawa senjata?", dan setiap kali rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbicara maka Urwah memegang jenggot rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka marahlah sayyidina Mughirah Ra melihat hal itu kemudian ia memukulkan pedangnya yang masih tertutup dengan sarungnya ke tangan Urwah ketika akan menyentuh jenggot Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bekata: "jangan kau sentuh lagi jenggot rasulullah, bersopan santunlah dihadapan rasulullah dan katakan saja apa maumu?" , namun rasulullah tetap sabar dan tenang, sedangkan Urwah masih terdiam. Sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Urwah berkata : "Aku telah pergi ke kerajann Romawi dan aku melihat semua rakyat memuliakan kaisar Romawi, aku melihat rakyat memuliakan kaisar Kisra, dan pengagungan rakyat kepada raja Habasyah, namun tidak pernah kumelihat pengagungan rakyat kepada pemimpinnya seperti pengagungan para sahabat kepada Muhammad, dan banyak diantara mereka tidak mengangkat kepala untuk memandang wajah nabi Muhmmad karena memuliakan beliau". Diriwayatkan pula ketika rasulullah telah wafat ada seseorang bertanya kepada salah seorang sahabat dan dia ingin mengetahui bentuk wajah rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka sahabat itu berkata: "sejak aku masuk Islam dan aku mengenal Rasulullah, sungguh aku tidak pernah berani memandang wajah rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam", karena memuliakan beliau. Dan Urwah melihat lagi keadaan para sahabat dan berkata : " tidaklah nabi Muhammad membuang air liurnya kecuali telah berada di tangan sahabat lalu diusapkan ke wajah para sahabat". Air liur dan keringat beliau shallallahu 'alaihi wasallam lebih wangi dari segala wewangian yang ada di langit dan bumi, demikian ciptaan Allah yang terindah, sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Diriwayatkan pula bahwa setelah Rasulullah selesai berwudhu, maka para sahabat berebutan untuk mengambil bekas air wudhu sang nabi kemudian mengusapkan ke wajah dan tubuh mereka, dan yang tidak kebagian air itu maka ia mengambil bekas air yang telah diusapkan ke tubuh temannya, kemudian diusapkan ke wajahnya. Hal ini bukanlah sesuatu yang syirik, namun hal ini adalah cinta para sahabat kepada rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Perbuatan para sahabat rasulullah yang saat ini telah dianggap sebagai sesuatu yang syirik, sungguh hal itu sama sekali tidak dilarang oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, untuk mengambil barakah dari orang-orang shalih khususnya orang yang tershalih, sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Maka setelah Urwah melihat keadaan seperti itu, dia merasa kecewa dan kembali ke Makkah dia berkata: "kaum muslimin datang dengan damai dan yang mereka bawa hanyalah hewan-hewan ternak yang akan disembelih untuk kurban, tidak membawa senjata untuk berperang, namun jika kita (kaum quraisy) perangi mereka, maka kita akan dikalahkan karena aku melihat bahwa para sahabat sangat mengagungkan nabi Muhammad melebihi pengagungan rakyat kepada kaisar romawi, melebihi pengagungan rakyat kepada raja Habasyi, melebihi penggungan rakyat kepada kaisar Kisra". Maka kuffar quraisy mengirim utusan yang lain dan dikirimlah Suhail untuk menahan Rasulullah dan kaum muslimin untuk tidak masuk ke Makkah, maka Suhail membuat perjanjian dengan Rasulullah untuk tidak masuk ke Makkah saat itu namun di tahun yang akan datang, dan sayyidina bin Abi thalib yang menulisnya. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa ketika rasulullah memerintahakan sayyidina Ali untuk menulis "Bismillahirrahmanirrahim", maka Suhail berkata: "jangan tulis Ar Rahman Ar Rahim, tetapi tulis Bismikallahumma, karena kami tidak mengenal Ar Rahman Ar Rahim", maka kaum muslimin riuh dan berkata: "mengapa nama Allah dilarang untuk ditulis, tetap tulis nama Allah, jangan hirausakan perkataan kaum quraisy", berkatalah rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "jangan tulis bismillahirrahmanirrahim, tulis bismikallahumma seperti yang mereka mau". Namun sebenarnya sama-sama menyebut nama Allah juga karena orang qurays juga menyembah Allah, namun mereka mempunyai tuhan lain selain Allah. Kemudian rasulullah rasulullah berkata kepada sayyidina Ali : "tulislah, "dari Muhammad rasulullah", maka Suhail berkata : "jangan tulis Rasulullah, jika kami mengakui engkau rasulullah maka kami tidak akan melarang kalian untuk masuk ke Makkah", maka orang muslimin pun kembali riuh dan tidak mau jika nama Rasulullah dihapus. Rasulullah diam kemudian berkata :

وَاللهِ إِنِّي لَرَسُولُ اللهِ وَلَوْ كَذَّبْتُمُوْنِيْ

" Demi Allah, sungguh aku adalah rasulullah meskipun kalian mendustaiku "

Lalu beliau berkata kepada sayyidina Ali : "tulislah dari Muhammad bin Abdillah", maka sayyidina Ali tidak mampu untuk menghapus kalimat Rasulullah dan tangannya pun gemetar, maka rasulullah yang menghapusnya sendiri. Di dalam riwayat Shahih Al Bukhari, Suhail berkata : "jika ada diantara kami yang mau masuk Islam maka harus dengan seizin kami, dan jika kami tidak mengizinkan maka harus kalian kembalikan kepada kami, namun jika ada diantara kalian yang mau masuk ke agama kami dan kembali ke Makkah maka tidak boleh kalian larang". Rasulullah masih diam dan belum menjawab ucapan Suhail, para sahabat mulai riuh dan tidak setuju dengan ucapan Suhail. Maka rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hanya diam, dan belum selesai rasulullah berbicara, datanglah sayyidina Jandal Bin Suhail dalam keadaan tangan yang terikat, dimana ia ingin masuk Islam namun ditangkap oleh kuffar quraiys, maka ia berkata: "wahai Rasulullah, apakah engkau setujui perjanjian itu, berarti aku harus kembali lagi kepada kaum quraisy, aku datang kesini untuk masuk Islam wahai Rasulullah", maka Suhail berkata: " dalam perjanjian yang pertama ini, dia adalah orang pertama yang harus dikembalikan lagi ke Makkah, dan kami akan membawanya kembali ke Makkah", maka berkatalah Jandal bin Suhail: "wahai Rasulullah jika aku dikembalikan lagi kepada orang quraisy maka aku akan dibantai lebih dari pedihnya siksaan yang telah aku rasakan", maka kaum muslimin pun riuh dan berkata: "wahai Rasulullah bagaimana kita menghalangi orang yang hendak masuk Islam dan menyuruhnya untuk kembali lagi kepada kuffar quraisy?", namun rasulullah tetap menyetujui perjanjian itu kemudian beliau menandatanganinya. Maka para sahabat mundur dan bingung, ada yang kecewa dan risau, dan tidak tau harus berbuat apa. Di saat itu berdirilah sayyidina Umar bin Khattab dan berkata : "wahai Rasulullah bukankah engkau benar-benar nabiyullah dan utusan Allah?", tentunya sayyidina Umar bukan ragu dengan kenabian beliau namun beliau hanya ingin mendapatkan jawaban yang jelas agar kaum muslimin menang, maka rasulullah berkata : " balaa (betul) ", sayyidina Umar kembali berkata : "bukankah kita dalam kebenaran dan mereka dalam kebathilan?" , rasulullah berkata : "betul", lalu sayyidina Umar berkata : "lantas mengapa kita menghinakan diri kita kepada musuh-musuh kita yang sudah jelas-jelas mereka salah?!", maka rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:

إِنِّيْ رَسُولُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا

" Sesungguhnya aku adalah rasulullah dan Allah tidak akan mengecewakanku"

Maka sayyidina Umar terdiam tidak lagi bisa menjawab perkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian sayyidina Umar datang kepada sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan menceritakan kejadian tadi dan menyampaikan kepada Abu Bakar bahwa rasulullah berkata:

إِنِّيْ رَسُولُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدً

maka sayyidina Abu Bakr berkata: "betul, nabi Muhammad adalah utusan Allah dan Allah tidak akan mengecewakan beliau", sayyidina Umar pun terdiam. Maka tidak lama kemudian turunlah firman Allah :

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

( الفتح:10 )

" Sesungguhnya orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah diatas tangan-tangan mereka , maka barangsiapa melanggar janji, maka seseungguhnya ia melanggar atas janjinya sendiri, dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar " ( QS. Al Fath: 10 )

Semua kaum muslimin saat itu bersumpah bersama rasulullah di dalam perjanjian Hudaibiyah, lalu Allah subhanahu wata'ala berfirman bahwa mereka yang bersumpah setia kepada rasulullah sungguh mereka telah bersumpah setia kepada Allah. Allah subhanahu wata'ala ada dalam sumpah setia mereka. Di dalam ayat lainnya Allah berfirman :

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

(الفتح : 18)

" Sungguh Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia (Allah) mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka, dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat" ( QS. Al Fath : 18 )

Allah subhanahu wata'ala telah ridha dengan orang-orang yang telah bersumpah setia kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam di bawah pohon, yaitu dalam bai'at ar ridwan (perjanjian hudaibiyah). Allah mengetahui kekecewaan hati mereka, kemudian Allah turunkan ketenangan di hati mereka dan bagi mereka akan datang kemenangan dalam waktu dekat. Sebelum ayat ini turun, Rasulullah keluar dari kemah dan mengajak para sahabat untuk menyembelih hewan kurban disana lalu mencukur rambut disana, namun para sahabat hanya diam dan tidak satu pun yang bergerak, mereka merasa kebingungan dengan keputusan rasulullah karena selalu menyetujuinya permintaan kuffar quraisy, bagaimana jika mereka akan meminta perjanjian yang lebih dahsyat lagi, mengapa Rasulullah selalu setuju dengan musuh-musuhnya, menjatuhkan muslimin dan membela musuh-musuhnya, para sahabat kebingungan dan tidak ada yang bergerak dari tempatnya, maka rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam kemah dan menjumpai istrinya, Ummu Salamah RA, dan berkatalah Ummu Salamah RA : "wahai Rasulullah jangan bersedih, jika mereka tidak mau menyembelih hewan kurban disini dan mencukur rambut disini, engkau lakukanlah sendiri maka mereka pasti akan mengikuti apa yang engkau perbuat, serisau-risaunya mereka, mereka tetap mencintaimu wahai rasulullah". Maka rasulullah keluar tanpa berbicara satu kalimat pun, kemudian beliau mulai mencukur rambutnya dan menyembelih hewan kurbannya, maka satu persatu para sahabat mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Di sore itu telah turun ayat firman Allah subhanahu wata'ala:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

( الفَتْح: 27 )

" Sungguh Allah akan membuktikan kepada rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki masjidil haram jika Allah menghendaki dalam keadaan aman , dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia (Allah) telah memberikan kemenangan yang dekat " (QS. Al Fath: 27)

Demikianlah ayat yang turun untuk 1400 muslimin yang ada dalam perjanjian Hudaibiyah. Disaat itu kaum muslimin dalam kehausan dan kebingungan, maka rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengambil wadah air kemudian beliau berwudhu, dan para sahabat telah berkerumun dihadapan rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau berkata: "Mengapa kalian berkumpul disini?", mereka berkata: "wahai rasulullah, tidak ada lagi air kecuali ini, semua perbekalan kami sudah habis" , maka rasulullah menaruhkan tangannya di wadah itu, dan mengalirlah air dari jari-jari beliau. Maka para sahabat meminumnya dan berwudhu dengan air itu. Mereka berkata : "kami berwudhu dan minum sepuasnya dimana jumlah kami 1400, jika jumlah kami 100000 pun pastilah mencukupinya" . Maka di malam itu sayyidina Umar datang ke kemah rasulullah dan memberikan pertanyaan kepada rasulullah namun beliau tidak menjawabnya, sayyidina Umar mengulang pertanyaannya hingga 3 kali tetapi rasulullah tetap diam. Kemudian sayyidina Umar keluar dari kemah rasulullah dan berkata pada dirinya : "sungguh akan celaka diriku, berkali-kali aku bertanya kepada rasulullah namun beliau tetap diam, pastilah akan turun ayat yang akan menegur perbuatanku", tidak beberapa lama setelah keluar dari kemah rasulullah, seorang sahabat memanggilnya : "wahai Umar, kembalilah karena telah turun ayat". Sayyidina Umar risau dan khawatir karena mengira pastilah ayat itu turun untuk menegur perbuatannya. Maka rasulullah berkata : "malam ini telah turun ayat yang lebih kusenangi daripada terbitnya matahari", sayyidina Umar bertanya : "ayat apa wahai Rasulullah?" , maka rasulullah membacakannya:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

(الفَتْح: 1-3 )

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)" (QS. Al Fath: 1-3 )

Maka sayyidina Umar berkata : "apakah ini adalah tanda bahwa akan ada fath Makkah wahai Rasulullah?" , Rasulullah berkata : "iya, betul" . Ayat ini turun pada tahun ke 6 H, dan 2 tahun kemudian tepatnya tahun ke 8 H di bulan ramadhan terjadi Fath Makkah tanpa ada kekerasan dan peperangan, Makkah Al Mukarramah dimasuki oleh seluruh kaum muslimin. Kejadian Hudaibiyah yang terjadi pada bulan Dzulqa'dah tahun ke 6 H, setelah itu terjadi Fath Makkah pada tahun ke 8 H, dan ada juga kejadian-kejadin lainnya yang terjadi pada bulan Dzulhijjah diantaranya hajjah al wada'.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Saya tidak berpanjang lebar menyampaikan tausiah, namun kita terus berdoa untuk niat dan hajat kita dengan selalu melanjutkan dzikir jalalah sebanyak 500 kali setiap malamnya. Dulu kita hanya lakukan setiap malam Sabtu, namun kita lihat saat ini banyak musibah terjadi, gunung-gunung berapi bisa kita bilang demo, bukan hanya manusia saja yang bisa demo, jika manusia yang demo maka polisi bisa mengamankan, namun jika gunung yang demo siapa yang mengamankan?!. Saat ini lebih dari 21 gunung berapi yang demo, demo karena apa?, demo karena dosa ummat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, karena sungguh gunung-gunung itu adalah pecinta sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, semua gunung memuliakan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Saat Rasulullah dilempari oleh penduduk thaif, maka malaikat penjaga semua gunung yang diperintah oleh Allah untuk menggengam semua gunung di bumi datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata : "wahai Rasulullah aku angkat satu gunung saja lalu aku lemparkan ke Thaif ", maka Rasulullah menjawab : "jangan", ingat bahwa gunung itu ada yang menjaganya dan ia berkhidmah kepada sayyidina dengan perintah Allah subhanahu wata'ala, itu yang pertama. Yang kedua adalah bagaimana cintanya gunung Uhud kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ

" Ini adalah gunung yang mencintai kami, dan kami mencintainya "

Gunung-gunung mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, memangnya gunung punya perasaan?!, jika kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan beriman kepada Alqur'an maka kalian akan beriman bahwa gunung itu punya perasaan, karena Allah telah berfirman:

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآَنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

( الحشر: 21)

" Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir" (QS. Al Hasyr: 21 )

Gunung takut kepada Allah, maka berarti gunung itu mempunyai perasaan. Dan ingatlah firman Allah:

فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

( الأعراف : 143 )

" Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu , dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman" (QS. Al A'raf : 143 )

Hal ini menunjukkan bahwa gunung-gunung ini semua memuliakan dan mengagungkan Allah subhanahu wata'ala, bertasbih dan berdzikir kepada Allah, taat dan takut kepada Allah. Dan mereka itu akan tenang jika seandainya manusia berdzikir mengingat Allah, maka gunung dan alam semesta tidak akan mengganggu orang-orang yang berdzikir. Namun ketika manusia melupakan Allah subhanahu wata'ala, maka gunung-gunung itu juga ingin menuntun kita dan membantu nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengarahkan ummatnya agar kembali bertobat. Sampai pertanyaan kepada saya : "Bib, apakah Majelis Rasulullah tidak membuat posko untuk bencana-bencana gunung berapi?", iya kita membuat posko, dan posko-posko kita adalah di majelis kita dalam dzikir-dzikir kita kepada Allah subhanahu wata'ala untuk meredakan semua gunung, karena semua gunung ada dalam genggaman rabbul 'alamin. Dan tidak ada yang lebih berwibawa dari nama Allah subhanahu wata'ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى أَنْ لَاتُقَالَ فِي الأَرْضِ الله الله

" Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga tidak lagi diucapkan "Allah Allah" di dunia"

Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ عَلَى رَجُلٍ يَقُوْلُ اَلله الله

" Tidak akan terjadi hari kiamat pada seseorang yang mengucapkan "Allah Allah"

Tidak akan datang hari kiamat selama masih ada yang memanggil nama Allah, dan tidak pula akan datang hari kiamat menimpa seseorang yang menyebut nama Allahu Allahu. Jangan kita melihat orangnya, namun kita lihat kewibawaan nama Allah subhanahu wata'ala, satu jiwa yang menyebut nama Allah, hal itu menahan hancurnya alam semesta, jangankan hanya 1 atau dua gunung 20 gunung pun akan reda dengan kewibawaan cahaya nama Allah. Cahaya kewibawaan Allah menghancurkan gunung di zaman nabi Musa AS, dan jika Al Qur'an diturunkan kepada gunung, maka gunung itu hancur, bukankah Al quran itu kesemuanya adalah rahasia keagungan dari pecahan dari nama Allah subhanahu wata'ala. Maka inilah nama Yang Maha Berwibawa, yang jika ada pada sanubari manusia, dilafazhkan atau diingat, maka seluruh kehancuran alam ini akan tertahan karena masih ada yang mengingat dan menyebut nama Allah. Hadirin hadirat, saya ingatkan kembali sadari makna kewibawaan nama Allah subhanahu wata'ala yang menahan kehancuran alam semesta, hanya karena seseorang yang masih menyebat nama Allahu Allahu. Maka bagaimana kehadiran kita di malam hari ini , lebih dari 40000 muslimin muslimat berkumpul di malam hari ini, dan setiap malam mejelis Rasulullah mengadakan dzikir jalalah, hingga 40 malam kita akan terus berdzikir lafazh Jalalah 500 kali setiap malamnya untuk meredam semua musibah, menenangkan gunung-gunung, menenangkan hujan dan yang lainnya, bukan kita meminta kepada gunung atau yang lainnya, namun kita memita kepada pemilik gunung, meminta kepada pemilik hujan, dan pemilik lautan, agar Allah subhanahu wata'ala tenangka karen semua ini adalah milik-Nya dan tunduk kepada pemiliknya, tunduk kepada kepada rabbul 'alamin subhanahu wata'ala …..

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ... مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Pengumuman malam minggu yang akan datang, kita akan mengadakan takbir akbar dan ziarah kubra di majelis ta'lim Al Islah di Jl. Kramat 3 Kwitang Jakarta Pusat, setelah majelis kita akan ziarah kepada Al Habib Ali bin Abdirrahman Al Habsyi Kwitang lalu berziarah kepada ayahandanya Al Habib Abdurrahman Al Habsyi Cikini, jadi saya harapkan 2 hal dari jamaah, yang pertama untuk menggunakan helm demi menjaga nama baik Majelis Rasulullah, dan yang kedua jangan mendahului ziarah namun kita berdzikir dulu, jangan meninggalkan dzikir karena setiap malam kita melakukan dzikir lafzh Jalalah, demikian yang ingin saya sampaikan. Selanjutnya kita saling doa dan saling mendukung untuk membantu kemajuan dakawah kita dan kesuksesan acara kedatangan guru mulia kita Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, yang Insyaallah di akhir Desember 2010. Kita akan mengadakan acara besar-besaran insyaallah sukses, mungkin kita akan pasang 40 sampai 60 baleho, hingga ke Pekalongan, Demak, Denpasar, Banjarmasin dan Jawa Timur Insyaallah. Kita berharap jamaah yang hadir melebihi 5 juta muslimin muslimat, dan kita akan mengundang ulama-ulama besar dari pulau Jawa dari para ulama sepuh dan para habaib akan berkumpul di Monas, semoga segala halangan dan rinatangan disingkirkan oleh Allah subhanahu wata'ala dan membawa rahmat bagi kita semua. Selanjutnya kita bertawassul kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala :

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

( النساء: 64 )

"Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang" (QS. An Nisaa: 64 )

Ketika para sahabat telah merasa banyak berbuat salah, mereka berdatangan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu mereka beristighfar kepada Allah, lalu Rasulullah memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah mengampuni dosa mereka dan berkasih sayang. Hal ini di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, namun Al Imam Ibn Katsir di dalam tafsirnya menukil riwayat dari Al Imam Qurthubi bahwa salah seorang Baduwi datang ziarah ke makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan ia membaca ayat itu, maka ia berkata : "Wahai Allah, aku sekarang datang kepada Rasulullah shallallahu 'aalaihi wasallam walaupun beliau telah wafat, namun telah engkau firmankan :

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

(آل عمران : 169 )

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki" (QS. Ali Imaran: 169)

Apalagi pimpinan orang-orang yang wafat di jalan Allah, sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Yang telah bersabda, sebagaimana yang telah dinukil oelh Al Imam Ibn Katsir : "Siapa yang bersalam kepadaku, maka Allah subhanahu wata'ala menyampaikannya kepadaku dan aku menjawab salamnya" , maka orang baduwi itu berkata : "wahai Allah aku tidak hidup di zaman Rasulullah, sekarang aku datang ke makamnya, maka aku mohon pengampunan-Mu di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bukan makamnya akan tetapi ruh beliau shallallahu 'alaihi wasallam, maka jika engkau ampuni dosaku akan gembiralah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan akan sedihlah syaitan, dan jika engkau tidak mengampuni dosaku maka akan bersedihlah Rasulullah dan gembiralah syaitan, dan sungguh tidak mungkin Kau akan menyedihkan nabi-Mu dan menggembirakan syaitan", maka Al Imam Qurthubi yang duduk disana mengantuk lalu tertidur, ia bermimpi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata : "wahai Qurthubi bangun dan kejarlah orang baduwi itu dan katakana kepadanya bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya". Maka kita bertawassul kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berdoa agar Allah subhanahu wata'ala menjauhkan musibah dari kita dan muslimin muslimat, serta mengampuni dosa-dosa kita dan menjaga kita dalam sebaik-baik keadaan, amin. Setelah itu kalimah talqin oleh guru kita fadhilah As Sayyid Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas.

Racun Hewan Mematikan



Ada banyak hewan beracun di bumi ini. Diantaranya bahkan ada yang dapat sangat mematikan dalam waktu yang singkat. Apa saja hewan beracun yang paling mematikan?

Hewan yang masuk dalam kategori beracun, biasanya memiliki zat kimia berbahaya yang disebut toksin. Toksin ini bisa disimpan dalam kelenjar atau kulit hewan.

Pada umumnya, hewan beracun di dunia memiliki warna yang sangat terang. Biasanya berwarna kuning cerah, biru, merah atau oranye.

Bila predator tidak takut dengan warna-warna tubuh yang mencolok, maka itu bisa membunuhnya. Hal ini karena tingkat racun pada hewan-hewan ini begitu terkonsentrasi, bahkan dalam jumlah kecil sekalipun dapat mematikan dengan langsung mempengaruhi jantung dan paru-paru.

Seperti dilansir dari Buzzle dan Scienceray, Rabu (28/4/2010), berikut 10 hewan beracun yang paling mematikan, yaitu:

1. Ubur-ubur Kotak (Box Jellyfish)
Ubur-ubur kotak adalah ubur-ubur mematikan yang ditemukan di perairan Australia dan Asia. Racun pada ubur-ubur ini sangat mematikan dengan langsung menyerang jantung, sel kulit dan sistem saraf manusia dan hewan lainnya.

Racun hewan ini sangat kuat hingga menyebabkan sakit yang luar biasa. Biasanya manusia yang tersengat tentakelnya akan mengalami shock dan tenggelam atau bisa juga langsung menderita serangan jantung dan meninggal.

2. Ular King Kobra (Ophiophagus Hannah)
Satu gigitan ular ini dapat dengan mudah membunuh manusia. Racun ular King Kobra bahkan mampu membunuh seekor gajah Asia dewasa hanya dalam waktu tiga jam, jika digigit di daerah rawan seperti belalai.

Bisa King Kobra tidak begitu beracun ketimbang ular lainnya, tapi ular ini mampu menyuntikkan racun lima kali lebih banyak dari ular lainnya, sehingga dapat mematikan lima kali lebih cepat ketimbang ulang lain.

3. Siput Marble Cone
Siput ini ditemukan di perairan air asin. Satu tetes racun siput Marble Cone cukup untuk membunuh sekitar 20 manusia. Bila tersentuh siput ini akan mengakibatkan sakit parah, mati rasa, kesemutan dan bengkak di daerah yang tersentuh. Hal ini juga dapat menyebabkan kegagalan bernapas, kelumpuhan otot dan gangguan penglihatan. Dan belum ada anti-bisa untuk racun siput Marble Cone ini.

4. Gurita Lingkaran Biru (Blue-Ringed Octopus)
Gurita ini hanya berukuran sebesar bola pingpong, tapi racun hewan laut ini mampu membunuh sekitar 26 orang. Pada awal gigitan, tidak ada gejala seperti rasa sakit, tapi dalam waktu 10 menit, gejala mulai terlihat seperti mual-mual dan muntah.

Ada juga beberapa kasus yang menyebabkan kelumpuhan dan kematian. Dan sampai saat ini pun belum ada penawar untuk racun gurita ini.

5. Kalajengking Death Stalker (Death Stalker Scorpion)
Sebagian besar kalajengking relatif tidak berbahaya dan hanya menimbulkan rasa sakit, mati rasa atau pembengkakan.

Tapi kalajengking Death Stalker sangat berbahaya, karena racun kalajengking ini dapat menimbulkan rasa sakit yang tak tertahankan, lalu demam, diikuti dengan koma, kejang, kelumpuhan dan kematian.

Kalajengking jenis ini biasanya akan mematikan individu yang memiliki kekebalan tubuh yang tidak baik atau lemah jantung. Kalajengking Death Stalker banyak ditemukan di Afrika Utara dan Timur Tengah.

6. Ikan Batu (Stonefish)
Ikan ini banyak ditemukan di Samudra Pasifik dan Hindia dan merupakan jenis ikan yang paling beracun.

Ikan ini menyimpan racun di permukaan tubuhnya yang sama sekali tidak manarik dan menyerupai batu. Racun ikan batu ini dikenal dapat menyebabkan rasa sakit yang parah, dan bahkan disebut dengan 'rasa sakit terpuruk yang dikenal manusia'.

Sengatan ikan batu dapat membuat seseorang mengalami shock, kelumpuhan bahkan kematian jaringan. Jika tidak segera mendapat penanganan medis dapat menyebabkan amputasi dan kematian pada manusia.


7. Laba-laba Brazilian Wandering (Brazilian Wandering Spider)
Laba-laba Brazilian Wandering yang dikenal dengan laba pisang atau Phoneutria, merupakan salah satu makhluk hidup yang paling beracun. Racun laba-laba ini dapat sangat mematikan bahkan dalam jumlah yang sangat kecil. 0,006 mg racun laba-laba Brazilian Wandering dapat membunuh seekor tikus.

Laba-laba Brazilian Wandering merupakan laba-laba paling beracun diantara laba-laba lainnya. Sengatan laba-laba ini tidak hanya menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, tetapi juga dapat menyebabkan Priapisme (ereksi yang tidak nyaman yang bertahan sampai berjam-jam bahkan menyebabkan impotensi) pada pria.

Laba-laba ini hidup nomaden (berpindah-pindah) dan sering bersembunyi pada siang hari di daerah berpopulasi tinggi seperti rumah, tumpukan baju, sepatu dan mobil, sehingga dapat sangat meresahkan.


8. Ular Inland Taipan
Ular Inland Taipan adalah ular yang paling beracun dalam ketegori ular. Satu gigitan ular ini dapat membunuh hingga 100 manusia dewasa. Bahkan racun ular Inland Taipan 400 kali lebih beracun ketimbang ular kobra biasa.

Racun ular ini begitu neuro-toksik yang dapat membunuh manusia dalam waktu kurang dari 45 menit.


9. Katak Poison Dart (Poison Dart Frog)
Amfibi ini banyak ditemukan di hutan hujan di Amerika Selatan atau Amerika Tengah dan juga merupakan salah satu hewan paling beracun di bumi.

Katak yang berukuran 2 inchi ini mampu menyimpam racun di balik warna kulitnya yang indah dan mencolok.

Racunnya yang terkonsentrasi, dalam jumlah kecil telah mampu membunuh sejumlah besar manusia dan hewan, sekitar 2 mikrogram (sejumlah tinta yang digunakan untuk menulis).

Racun katak ini disebut racun katak panah, karena racun katak ini sering diambil dan digunakan pada anak panah untuk berburu. Dan katak ini menyengat makhluk apapun yang mendekati, menyentuh atau memakannya.


10. Ikan Bantal (Puffer Fish)
Seekor ikan akuarium yang indah, tapi juga dapat menyababkan hal-hal fatal. Kulit dan organ-organ tertentu dari ikan bantal ini sangat baracun bagi manusia, dan biasanya akan mamatikan bagi nelayan yang tidak berpengalaman menangkap dan memakan ikan ini.

Racun ikan ini dapat mematikan bibir, lidah dan bahkan menyebabkan kelumpuhan otot. Kebanyakan korban meninggal dalam waktu 24 jam. Dari tahun 1996 sampai 2006, rata-rata sekitar 20-44 insiden keracunan per tahun, dan 6 diantaranya menyebabkan kematian. Karena racun pada ikan ini, hanya koki berlisensi yang diperbolehkan untuk menjadikan ikan ini sebagai makanan.

Seputar Qurban


Pengertian qurban secara terminologi syara' tidak ada perbedaan, yaitu hewan yang khusus disembelih pada saat Hari Raya Qurban ('Idul Al-Adha 10 Dzul Hijjah) dan hari-hari tasyriq (11,12, dan 13 Dzul Hijjah) sebagai upaya untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.

Dalam Islam qurban disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Saat itu Rasulullah keluar menuju masjid untuk melaksanakan shalat 'Idul Adha dan membaca khutbah `Id. Setelah itu beliau berqurban dua ekor kambing yang bertanduk dan berbulu putih.

Hukum Berqurban

Hukum berqurban adalah sunnah muakkadah bagi kita artinya kesunnahan yang sangat ditekankan namun bagi Rasulullah Saw berqurban adalah wajib sebagai kekhususan beliau.

Kesunnahan tadi terbagi dua ada kalanya sunnah kifayah yaitu bagi tiap-tiap muslim yang sudah baligh, berakal, memiliki kemampuan untuk berqurban dan hidup dalam satu keluarga. Artinya jika ada salah satu anggota keluarga berqurban, maka gugurlah tuntutan untuk berqurban dari tiap-tiap anggota keluarga itu. Namun tentunya yang mendapat pahala qurban adalah khusus bagi orang yang melakukannya.

Dan ada kalanya hukum qurban sunnah 'ain yaitu bagi mereka yang hidup seorang diri, tidak memiliki sanak saudara. Atau dengan kata lain sunnah 'ain adalah sasaran kesunnahannya ditujukan pada indifidu atau personal semata.
Yang dimaksud 'memiliki kemampuan' disini adalah orang yang memiliki harta yang cukup untuk dibuat qurban dan cukup untuk memenuhi kebutuhannya pada hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyriq.
Bahkan Imam As Syafi'i berkata, "Saya tidak memberi dispensasi / keringanan sedikitpun pada orang yang mampu berqurban untuk meninggalkannya". Maksud perkataan ini adalah makruh bagi orang yang mampu berqurban, tapi tidak mau melaksanakannya (lihat: Iqna' II/278)

Meskipun hukum qurban adalah sunnah, namun suatu ketika bisa saja berubah menjadi wajib, yaitu jika dinadzarkan. Maka konsekwensinya jika sudah menjadi qurban wajib dia dan keluarga yang dia tanggung nafkahnya tidak boleh mengambil atau memakan sedikitpun dari daging qurban tersebut.

Waktu Pelaksanaan Kurban

Waktu pelaksanaan kurban adalah seusai melakukan sholat Idul Adha, 10 Dzul Hijjah sampai terbenamnya matahari pada akhir hari Tasyriq yaitu 13 Dzul Hijjah. Jadi tersedia waktu selama empat hari.
Sedangkan teknis penyembelihan hewan kurban, orang yang berkurban boleh melakukannya sendiri, sebagaimana hal ini dilakukan oleh Rasulullah saw. Boleh pula penyembelihannya diwakilkan kepada yang lebih ahli, sebagaimana beliau mengizinkan sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk menyembelih hewan kurban beliau. Dan jika penyembelihan itu diwakilkan kepada orang lain, maka dianjurkan kepada orang yang berkurban untuk menyaksikan proses penyembelihan, sebagaimana perintah Beliau kepada puterinya As Sayyidah Fatimah.

Pembagian kurban.

Daging kurban disyaratkan untuk dibagikan mentah, agar oleh si penerima yang berhak, dapat digunakan sesuka hatinya atau menjualnya. Maka tidak cukup dengan mengundang fakir miskin dan disuguhkan kepada mereka masakan dengan daging kurban tersebut.
Mengenai pembagian daging kurban, asalkan bukan kurban nadzar, maka orang yang berkurban berhak mengambil sebagian daging kurban dan selebihnya dibagikan (disedekahkan) kepada fakir miskin. Sebagian ulama berpendapat, daging kurban didistribusikan menjadi 3 bagian, sepertiga dimakan oleh yang berkurban, sepertiga lagi untuk disimpan oleh yang berkurban dan sepertiga yang lain disedekahkan kepada fakir miskin atau orang lain.

Sementara imam Syafi’I dalam qoul jadidnya berpendapat, sepertiga untuk dimakan sendiri dan dua pertiganya untuk disedekahkan. Adapun salafush shalih mereka menyukai membagi tiga bagian, sepertiga untuk dimakan sendiri, sepertiga disedekahkan kepada fakir miskin dan sepertiga lagi dihadiahkan kepada orang yang kaya.

Sementara menurut pendapat Imam Ibnu Qasim Al Ghizi, yang paling utama adalah menyedekahkan seluruh daging kurban tersebut, kecuali sekedar beberapa suapan saja bagi yang berkurban untuk mendapat keberkahan (At Tabarruk) dengan kurban itu.
Adanya hak orang yang berkurban mengambil daging kurbannya itu tidaklah mengurangi nilai ibadah kurbannya. Oleh karena nilai kurbannya telah terwujud pada proses penyembelihan, penumpahan darah hewan kurban.

Perbuatan yang dilarang dalam hal ini adalah menjual daging kurban sekalipun kulitnya atau memberikan upah berupa sebagian daging kurban kepada orang yang diserahi menyembelih.
Tapi jika kurban itu dinadzarkan, seperti dia mengatakan: “ wajib kepadaku agar aku berkurban untuk Allah”, atau “Aku bernadzar akan berkurban”, atau, “ binatang ini aku jadikan sebagai kurban”, maka dengan kalimat-kalimat itu dia telah dianggap bernadzar atau dengan kata lain menjadi wajib baginya berkurban, dan dalam hal ini, dia tidak boleh nantinya setelah disembelih untuk mengambil bagian dari daging kurbannya sekalipun sedikit, demikian pula tidak boleh mengambilnya orang-orang yang berada dalam tanggungan nafakahnya, seperti anak dan isterinya.

Kesunnahan saat menyembelih

Disunnahkan pada saat menyembelih beberapa hal, diantaranya: membaca basmalah dan sholawat kepada Rasulullah sebelum menyembelih, menghadap ke kiblat dan binatang kurban juga dihadapkan ke kiblat, mengucapkan takbir 3 kali sebelum basmalah atau sesudahnya, seperti dikatakan imam Al Mawardi dan juga disunnahkan untuk berdoa agar kurban tersebut diterima oleh Allah, seperti dia berdoa: “ Ya Allah inilah kurban dariMu dan untukMu, maka terimalah kurban ini”, maksudnya adalah “ Ya Allah binatang kurban ini sebagai nikmat dariMu kepadaku dan aku mendekatkan diriku kepadaMu dengannya maka terimalah ini”
Disunnahkan bagi yang hendak berkurban untuk tidak memotong rambutnya, bulu ketiak dan kukunya pada tanggal 10 Dzul Hijjah sampai dia menyembelih binatang kurbannya.

Binatang yang dikurbankan

Binatang yang dikurbankan adalah ternak tertentu yang telah ditentukan oleh syari’, yaitu kambing, sapi (lembu) dan onta. Satu kambing untuk satu orang, sedangkan satu sapi dan onta cukup untuk 7 orang. Artinya boleh berkurban secara patungan tetapi terbatas untuk sapi dan onta, masing-masing untuk 7 orang. Ini adalah pendapat imam Syafi’I, Ahmad, Sufyan Ats Tsauri dan Ibnul Mubarak, disasarkan pada hadits Abu Dawud dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah bersabda (yang artinya):
“ Seekor sapi patungan dari tujuh orang dan seekor onta juga patungan dari tujuh orang “.
Dan yang paling utama adalah berkurban dengan onta, kemudian sapi dan kemudian kambing. Onta disyaratkan berumur 5 tahun yang menginjak ke 6 tahun. Sapi berumur 2 tahun yang menginjak ke 3 tahun. Domba (kibas) berumur 1 tahun menginjak ke 2 tahun dan kambing kacang berusia 2 tahun menginjak ke 3 tahun.
Jika dilihat dari warna bulu binatang kurban, maka yang paling utama adalah yang berwarna putih kemudian kuning kemudian cokelat muda (seperti warna tanah) kemudian merah kemudian belang (hitam putih) kemudian hitam.

Juga disyaratkan binatang-binatang tersebut tidak cacat, seperti: salah satu matanya picek yang tampak atau buta, atau kakinya timpang atau pincang yang jelas kepincangannya, atau binatang itu terkena penyakit yang jelas sehingga tampak kurus atau dagingnya rusak karena penyakit itu, atau telinganya putus atau sebagiannya atau diciptakan memang tanpa telinga atau semua ekornya atau sebagiannya terputus, maka kesemuanya ini menjadikan kurbannya tidak cukup (tidak sah).

Tapi jika binatang itu tidak bertanduk atau tanduknya pecah atau dua buah pelirnya terputus, tetap dibolehkan berkurban dengan binatang tersebut. Dan dikatakan sudah cukup dan sah. Wallahu A’lam .

Maraji’: Kitab Hasyiyah Al Baijuri juz II, hal. 295-302 dan sumber lain.


Pertanyaan Seputar Qurban

Pertanyaan: Apakah boleh si pemotong qurban untuk mengambil bagian kaki dan kepala qurban itu ?

Jawaban: Yang dimaksud si pemotong qurban dalam hal ini tentu adalah orang yang diwakilkan untuk memotong atau menyembelihnya bukan pemilik qurban itu sendiri. Jika si pemotong diberikan kaki dan kepala atau kulit sebagai upah pemotongan, maka hukumnya tidak boleh. Karena dengan demikian berarti bagian itu dijual. Sedang orang yang menjual bagian qurbannya maka tidak ada udhiyah / qurban baginya, atau dengan kata lain tidak sah qurbannya.

Adapun memberikan si pemotong kepala dan kaki atau kulit tadi sebagai shadaqah atau hadiah yang tidak dikaitkan dengan pemotongan, sedang upahnya dibayar tersendiri dan ditanggung yang berqurban, maka boleh dan tidak ada larangan padanya.

Dalam kitab Busyral Karim (II/128) disebutkan, "Tidak boleh menjual sedikitpun bagian dari qurban dan tidak boleh memberikan si pemotong bagian qurban sebagai upahnya walaupun kulit. Tetapi ongkos atau upah pemotongan itu ditanggung oleh orang yang berqurban".
Oleh karena itu sebaiknya bagi panitia Qurban, selain menerima qurban juga memberitahukan bahwa orang yang berqurban harus membayar upah pemotongannya.


Pertanyaan: Bolehkah orang yang sudah menerima daging qurban kemudian menjualnya kepada orang lain?.

Jawaban: bagi orang yang berqurban, tidak boleh menjual sedikitpun bagian dari qurbannya. Adapun orang yang menerima qurban, jika dia adalah faqir miskin maka setelah qurban itu berada di tangannya jadilah itu haknya seperti daging biasa. Oleh karenanya boleh orang yang faqir atau miskin tadi menjualnya, tetapi harus dijual kepada orang islam.
Adapun orang kaya, jika mereka dikirimi atau diberikan qurban, maka dia hanya boleh mempergunakan daging tadi sebagai makanan atau jamuan atau disedekahkan kepada orang lain. Tidak boleh dia menjualnya. (Busyral Karim II/128)

Pertanyaan: Yang diharamkan untuk makan daging qurban/aqiqah yang wajib atau nadzar, apakah khusus bagi orang yang qurban/aqiqah saja, ataukah juga keluarganya yang masih wajib dinafkahi?

Jawaban: Yang diharamkan adalah orang yang qurban/aqiqah wajib atau nadzar dan juga orang yang wajib dinafkahinya, termasuk anak dan isterinya. Referensi: Al Baajuri II/300


Pertanyaan : daging qurban wajib setelah diterima oleh yang berhak kemudian diberikan kembali kepada orang yang qurban, apakah orang yang qurban tidak boleh memakan daging tersebut?

Jawaban: Boleh, karena daging itu sudah dimiliki oleh orang yang berhak tadi, dan setelah dimilikinya maka dia berhak menggunakan daging itu untuk apapun. Jadi jika diberikan lagi kepada orang yang berkurban maka boleh-boleh saja dan boleh memakannya, karena sekarang daging itu sudah tidak menjadi daging kurban lagi, tetapi menjadi daging hibbah atau shodaqah.
Referensi : Al Baajuri II/302


Pertanyaan : apakah dibolehkan memindahkan hewan qurban dari daerahnya orang yang berqurban ke daerah lain?

Jawaban: Boleh, baik hewan tersebut sudah disembelih atau belum.
Referensi: Kifaayatul Akhyar II/242, Itsmidul ‘Ainain hal.78


Pertanyaan: Bolehkan menjual tanduk dan kikil (teracak, jawa) dari hewan qurban wajib untuk ongkos orang yang mengurusinya?
Jawaban: Tidak boleh, sekalipun dari hewan qurban sunnah.
Referensi: Al Baajuri II/311, I’anatuth Thalibin II/333


Pertanyaan : Bolehkah aqiqah untuk salah seorang anak sekaligus diniati sebagai qurbannya anak tersebut?

Jawaban: kalau aqiqah dan qurbannya itu sama-sama sunnah dan kambingnya satu, dalam hal ini ada perbedaan pendapat, menurut imam Ibnu Hajar Al Haitami tidak boleh sedangkan imam Ar Romli mengatakan boleh. Begitu pula jika kambingnya dua atau lebih tapi diniati sekaligus, artinya tidak ditentukan mana yang untuk aqiqah dan mana yang untuk qurban, maka juga khilaf antara ulama seperti diatas.

Tapi kalau kambingnya dua atau lebih dan masing-masing ditentukan, mana yang untuk aqiqah dan mana yang untuk qurban maka sah/ boleh, tidak ada khilaf antara ulama.
Referensi: Al Baajuri II/304, Al Qulyubi IV/255, Itsmidul ‘Ainain hal.77


Pertanyaan: Bolehkah kulit kambing kurban dimiliki (diambil) oleh sebagian orang dari panitia kurban, yang juga mereka telah memperoleh pembagian dagingnya?

Jawaban: Boleh kulit kambing diberikan kepada mereka, dalam hal ini yang dilarang baik dalam kurban wajib atau sunnah, adalah menjual sebagian daging atau kulit kurban atau menjadikan kulit atau kikilnya sebagai upah (ongkos) bagi yang mengurusi penyembelihan.
Referensi: Al Baajuri II/302

Source : madinatulilmi.com

Kamis, 11 November 2010

Keutamaan Berdzikir


Allah swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak banyaknya.” (Q.s. Al Ahzab: 41).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:”Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalmu terbaik dan paling bersih dalam pandangan Allah swt, serta orang yang tertinggi derajatnya di antaramu, yang lebih baik dari menyedekahkan emas dan perak serta memerangi musuh-musuhmu dan memotong leher mereka, dan mereka juga memotong lehermu?” Para sahabat bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dzikir kepada Allah swt.” (H.r. Baihaqi).

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik na, bahwa Rasulullah saw. ‘bersabda:”Hari Kiamat tidak akan datang kepada seseorang yang mengucap ‘Allah, Allah’.” (H.r. Muslim).

Anas r.a. juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda,”Kiamat tidak akan datang sampai lafazh ‘Allah, Allah’ tidak lagi disebut-sebut di muka bumi.” (H.r. Tirmidzi).

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Dzikir adalah tiang penopang yang sangat kuat atas jalan menuju Allah swt. Sungguh, ia adalah landasan bagi tharikat itu sendiri. Tidak seorang pun dapat mencapai Allah swt, kecuali dengan terus-menerus dzikir kepada-Nya.”

Ada dua macam dzikir; Dzikir lisan dan dzikir hati. Si hamba mencapai taraf dzikir hati dengan melakukan dzikir lisan. Tetapi dzikir hatilah yang membuahkan pengaruh sejati. Manakala seseorang melakukan dzikir dengan lisan dan hatinya sekaligus, maka ia mencapai kesempurnaan dalam suluknya.Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkomentar, “Dzikir adalah tebaran kewalian. Seseorang yang dianugerahi keberhasilan dalam dzikir berarti telah dianugerahi taburan itu, dan orang yang tidak dianugerahinya berarti telah dipecat. ”

Dikatakan bahwa pada awal perjalanannya, Dulaf asy-Syibly biasa berjalan dijalan raya setiap hari dengan membawa seikat cambuk di punggungnya. Setiap kali kelalaian memasuki hatinya, ia akan melecut badannya sendiri dengan cambuk sampai cambuk itu patah. Kadang-kadang bekal cambuk itu habis sebelum malam tiba. Jika demikian, ia akan memukulkan tangan dan kakinya ke tembok manakala kelalaian mendatanginya.

Dikatakan, “Dzikir hati adalah pedang para pencari yang dengannya mereka membantai musuh dan menjaga diri dari setiap ancaman yang tertuju kepada mereka. Jika si hamba berlindung kepada Allah swt. dalam hatinya, maka manakala kegelisahan membayangi hati untuk dzikir kepada Allah swt, semua yang dibencinya akan lenyap darinya seketika itu juga.”

Ketika al-Wasithy ditanya tentang dzikir, menjelaskan, “Dzikir berarti meninggalkan bidang kealpaan dan memasuki bidang musyahadah mengalahkan rasa takut dan disertai kecintaan yang luar biasa. “Dzun Nun al-Mishry menegaskan, “Seorang yang benar-benar dzikir kepada Allah akan lupa segala sesuatu selain dzikirnya. Allah akan melindunginya dari segala sesuatu, dan ia diberi ganti dari segala sesuatu.”

Abu Utsman ditanya, “Kami melakukan dzikir lisan kepada Allah swt, tapi kami tidak merasakan kemanisan dalam hati kami?” Abu Utsman menasihatkan, “Memujilah kepada Allah swt. karena telah menghiasi anggota badanmu. dengan ketaatan.”

Sebuah hadis yang masyhur menuturkan, bahwasanya Rasulullah saw. mengajarkan: “‘Apabila engkau melihat surga, maka merumputlah kamu semua di di dalamnya.” Ditanyakan kepada bellau, “Apakah taman surga itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu kumpulan orang-orang yang sedang melakukan dzikir kepada Allah.” (H.r. Tirmidzi).

Jabir bin Abdullah menceritakan, “Rasulullah saw. mendatangi kami dan beliau bersabda:”Wahai ummat manusia, merumputlah di padang taman surga!” Kami bertanya, “Apakah taman surga itu?’ Beliau menjawab, “Majelis orang melakukan dzikir.” Beliau bersabda, “Berjalanlah dipagi dan petang hari, dengan berdzikir. Siapapun yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah swt, melihat pada derajat mana kedudukan Allah swt. pada dirinya. Derajat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya sepadan dengan derajat dimana hamba mendudukkan-Nya dalam dirinya.” (H.r. Tirmidzi, juga riwayat darl Abu Hurairah).

Asy-Syibly berkata, “Bukankah Allah swt. telah berfirman, ‘Aku bersama yang duduk berdzikir kepada-Ku’. “Manfaat apa, wahai manusia dari orang yang duduk dalam majelis Allah swt.?” Lalu ia bersyair berikut: Aku mengingat-Mu bukan karena aku lupa pada-Mu sesaat; Sedang bagian yang paling ringan adalah dzikir lisanku. Tanpa gairah rindu aku mati karena cinta, Hatiku bangkit dalam diriku, bergetar, ketika wujd memperlihatkan Engkau adalah hadirku, Kusaksikan Diri-Mu di mana saja, Lalu aku bicara kepada yang ada, tanpa ucapan, Dan aku memandang yang kulihat, tanpa mata.

Di antara karakter dzikir adalah, bahwa dzikir tidak terbatas pada waktu-waktu tertentu, kecuali si hamba diperintah untuk berdzikir kepada Allah di setiap waktu, entah sebagai kewajiban ataupun sunnah saja. Akan tetapi, shalat sehari-hari, meskipun merupakan amal ibadat termulia, dilarang pada waktu-waktu tertentu. Dzikir dalam hati bersifat terus-menerus, dalam kondisi apa pun. Allah swt. berfirman:”Yaitu orang orang yang dzikir kepada Allah, baik sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring (tidur).” (Q.s. Ali Imran: 191).Imam Abu Bakr bin Furak mengatakan, “Berdiri berarti menegakkan dzikir yang sejati, dan duduk berarti menahan diri dari sikap berpura-pura dalam dzikir.”

Syeikh Abu Abdurrahman bertanya kepada Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq, “Manakah yang lebih baik, dzikir ataukah tafakur? Bagaimana yang lebih berkenan bagimu?” Beliau berkata, “Dalam pandanganku, dzikir adalah lebih baik dari tafakur, sebab Allah swt. menyifati Diri-Nya sebagai Dzikir dan bukannya fikir. Apa pun yang menjadi sifat Allah adalah lebih baik dari sesuatu yang khusus bagi manusia.” Maka Syeikh Abu Ali setuju dengan pendapat yang bagus ini.

Muhammad al-Kattany berkata, “Seandainya bukan kewajibanku untuk berdzikir kepada-Nya, tentu aku tidak berdzikir karena mengagungkan-Nya. Orang sepertiku berdzikir kepada Allah swt.? Tanpa membersihkan mulutnya dengan seribu tobat karena berdzikir kepada-Nya!”Saya mendengar Syeikh Abu Ali menuturkan syair:Tak pernah aku berdzikir kepada-Mumelainkan hatiku, batinku serta ruhku mencela diriku.Sehingga seolah-olah si Raqib dari-Mu berbisik padaku,’Waspadalah, celakalah engkau. Waspadalah terhadap dzikir!”

Salah satu sifat khas dzikir adalah, bahwa Dia memberi imbalan dzikir yang lain. Dalam firman-Nya:”Dzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku akan dzikir kepadamu.” (Q.s. Al Baqarah: 152).

Sebuah hadis menyebutkan bahwa Jibril as. mengatakan kepada Rasulullah saw, bahwasanya Allah swt. telah berfirman, “Aku telah memberikan kepada ummatmu sesuatu yang tidak pernah Kuberikan kepada ummat yang lain.” Nabi saw. bertanya kepada Jibril, “Apakah pemberian itu?” Jibril menjawab, “Pemberian itu adalah firman-Nya, ‘Berdzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku akan akan berdzikir kepadarnu.’ Dia belum pernah memfirmankan itu kepada ummat lain yang mana pun.”

Dikatakan, “Malaikat maut minta izin dengan orang yang berdzikir sebelum mencabut nyawanya.”Tertulis dalam sebuah kitab bahwa Musa as. bertanya, “Wahai Tuhanku, di mana Engkau tinggal?” Allah swt. berfirman, “Dalam hati manusia yang beriman.” Firman ini merujuk pada dzikir kepada Allah, yang bermukim di dalam hati, sebab Allah Maha Suci dari setiap bentuk “tinggal” dan penempatan. “Tinggal” yang disebutkan di sini hanyalah dzikir yang tetap dan sekaligus menjadikan dzikir itu sendiri kuat.

Ketika Dzun-Nun ditanya tentang dzikir, ia menjelaskan, “Dzikir berarti tiadanya ingatan pelaku dzikir terhadap dzikirnya.” Lalu ia membacakan syair:Aku banyak berdzikir kepada-Mu bukan karenaaku telah melupakan-Mu;Itu hanyalah apa yang mengalir dari lisanku.

Sahl bin Abdullah mengatakan, “Tiada sehari pun berlalu, kecuali Allah swt. berseru, ‘Wahai hamba-Ku, engkau telah berlaku zalim kepada-Ku. Aku mengingatmu, tapi engkau melupakan-Ku. Aku menghilangkan penderitaanmu, tapi engkau terus melakukan dosa. Wahai anak Adam, apa yang akan engkau katakan besok jika engkau bertemu dengan Ku’?”Abu Sulaiman ad-Darany berkata, “Di surga ada lembah-lembah di mana para malaikat menanam pepohonan, ketika seseorang mulai berdzikir kepada Allah. Terkadang salah seorang malaikat itu berhenti bekerja dan teman-temannya bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau berhenti?’ Ia menjawab, ‘Sahabatku telah kendor dzikirnya’. ”

Dikatakan, “Carilah kemanisan dalam tiga hal: shalat, dzikir dan membaca Al-Qur’an. Kemanisan hanya dapat ditemukan di sana, atau jika tidak sama sekali, maka ketahuilah bahwa pintu telah tertutup.

Ahmad al-Aswad menuturkan, “Ketika aku sedang melakukan perjalanan bersama Ibrahim al-Khawwas, kami tiba di suatu tempat yang dihuni banyak ular. Ibrahim al-Khawwas meletakkan kualinya dan duduk, begitupun denganku. Ketika malam tiba dan udara menjadi dingin, ular-ular itu pun berkeliaran. Aku berteriak kepada Syeikh, lalu berkata, ‘Dzikirlah kepada Allah!’ Aku pun berdzikir, dan ular-ular itu akhirnya pergi menjauh. Kemudian mereka datang lagi. Aku berteriak lagi kepada Syeikh, dan beliau menyuruhku berdzikir lagi. Hal itu berlangsung terus sampai pagi. Ketika kami bangun, Syeikh berdiri dan meneruskan perjalanan, dan aku pun berjalan menyertainya. Tiba-tiba seekor ular besar jatuh dari kasur gulungnya. Kiranya semalam ular itu telah tidur bergulung bersama beliau. Aku bertanya kepada Syeikh, Apakah Anda tidak merasakan adanya ular itu?’ Beliau menjawab, “Tidak. Sudah lama aku tidak merasakan tidur nyenyak seperti tidurku semalam’.”

Abu Utsman berkata, “Seseorang yang tidak dapat merasakan keganasan alpa, tidak akan merasakan sukacita dzikir.”As-Sary menegaskan, “Tertulis dalam salah satu kitab suci, ‘Jika dzikir kepada-Ku menguasai hamba-Ku, maka ia telah asyik kepada-Ku dan Aku pun asyik kepadanya’.” Dikatakan pula, “Allah mewahyukan kepada Daud as, ‘Bergembiralah dengan-Ku dan bersenang-senanglah dengan dzikir kepada-Ku’!”

Ats-Tsaury mengatakan, “Ada hukuman atas tiap-tiap sesuatu, dan hukuman bagi seorang ahli ma’rifat adalah terputus dari dzikir kepada-Nya.”Tertulis dalam Injil, “Ingatlah kepada-Ku ketika engkau dipengaruhi oleh kemarahan, dan Aku akan ingat kepadamu ketika Aku marah. Bersikap ridhalah dengan pertolongan-Ku kepadamu, sebab itu lebih baik bagimu dari pertolonganmu kepada dirimu sendiri. ”

Dikatakan, ‘Apabila dzikir kepada-Nya menguasai hati manusia dan setan datang mendekat, maka ia akan menggeliat-geliat di tanah seperti halnya manusia menggeliat-geliat manakala setan-setan mendekatinya. Apabila ini terjadi, maka semua setan akan berkumpul dan bertanya, Apa yang telah terjadi atas dirinya?’ Salah seorang dari mereka akan menjawab, ‘Seorang manusia telah menyentuhnya’.”Sahl berkata, “Aku tidak mengenal dosa yang lebih buruk dari lupa kepada Allah swt.”

Dikatakan bahwa malaikat tidak membawa dzikir batin seorang manusia ke langit, sebab ia sendiri bahkan tidak mengetahuinya. Dzikir batin adalah rahasia antara si hamba dengan Allah swt.Salah seorang Sufi menuturkan, “Aku mendengar cerita tentang seorang, laki-laki yang berdzikir di sebuah hutan. Lalu aku pergi menemuinya. Ketika ia sedang duduk, seekor binatang buas menggigitnya dan mengoyak dagingnya. Kami berdua pingsan. Ketika ia siuman, aku bertanya kepadanya tentang hal itu, dan ia berkata kepadaku, Binatang itu diutus oleh Allah. Apabila engkau kendor dalam berdzikir kepada-Nya, ia datang kepadaku dan menggigitku sebagaimana yang engkau saksikan’.”

Abdullah Al-jurairy mengabarkan, “Di antara murid-murid kami ada seorang laki-laki yang selalu berdzlkir dengan mengucap ‘Allah, Allah.’ Pada suatu hari sebatang cabang pohon patah dan jatuh menimpa kepalanya. Kepalanya pun pecah dan darah mengalir ke tanah membentuk kata-kata `Allah` “.

Wallahu ‘alam

The Greatest Love Story : Ali and Fathema

Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillahchapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

Kamis, 20 Mei 2010

Alhamdulillah.....Situs Lomba Sketsa Nabi Muhammad Kena Hack

situs-lomba-sketsa-nabi-muhammad-everybody-draw-mohammed-3 Alhamdulillah, Allahu Akbar! Akhirnya Situs Lomba Sketsa Nabi Muhammad Kena Hack (Everybody draw Mohammed day) oleh hacker Turki. Setelah menuai banyak protes di grup dan Page facebook namun beberapa grup/Page Facebook yang mengusung lomba sketsa Nabi Muhammad tak kunjung jua diblokir oleh admin Facebook. Beberapa grup/page facebook Lomba Sketsa Nabi Muhammad (Everybody draw Mohammed day) tsb adalah:

Page Facebook:

-http://www.facebook.com/pages/Everybody-Draw-Mohammed-Day/121369914543425

-http://www.facebook.com/pages/Everybody-Draw-Mohammed-Day/123335234360609

Grup Facebook:

-http://www.facebook.com/group.php?gid=120989617916358

Wordpress:

-http://everybodydrawmohammedday.wordpress.com

dan ini adalah Grup/Page Penentang/pemboikot lomba sketsa Nabi Muhammad/ Everybody draw Mohammed day, silakan bergabung:

Page Facebook:

-http://www.facebook.com/pages/AGAINST-Everybody-Draw-Mohammed-Day/113267462046186

Grup Facebook:

-http://www.facebook.com/group.php?gid=120989617916358

Berikut screenshoot Situs Lomba Sketsa Nabi Muhammad Kena Hack (Everybody draw Mohammed day Hacked).

situs-lomba-sketsa-nabi-muhammad-everybody-draw-mohammed-2

Jumat, 07 Mei 2010

Malaikat Penghitung Hujan


Diriwayatkan bahwa Rasulallah saw bersabda,

"Disaat aku tiba di langit di malam Isra' Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, di setiap tangan ada 1000 jari. Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu. Aku bertanya kepada Jibril as, pendampingku,

`Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?.'

Jibril berkata,

Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.'

Rasulallah saw bertanya kepada malaikat tadi,

`Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam as?.'

Malaikat itupun berkata,

`Wahai Rasulallah saw, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam as sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.'
Mendengar uraian malaikat tadi, Rasuluallah saw sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan. Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau,

`Wahai Rasulallah saw, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.'

Rasulallah saw pun bertanya,

`Apa kekurangan dan kelemahan kamu?.'

Malaikat itupun menjawab,

`Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rasulallah, jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu bershalawat atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada mereka atas shalawat yang mereka ucapkan atas dirimu.' "

Allahuma shalli a'la sayyidina Muhammadin wa a'la alihi wa shahbihi wa sallim.

Kamis, 06 Mei 2010

Sayyidah FATIMAH DAN GILINGAN GANDUM


Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra rha. Didapatinya anandanya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada anandanya, "apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis". Fathimah rha. berkata, "ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis". Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya. Fathimah rha. melanjutkan perkataannya, "ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta 'aliy (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah". Mendengar perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya "Bismillaahirrahmaanirrahiim". Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anandanya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.

Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, "berhentilah berputar dengan izin Allah SWT", maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, "ya Rasulullah SAW, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi : (artinya)
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan".
Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, "bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam sorga". Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.

Rasulullah SAW bersabda kepada anandanya, "jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat. Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.

Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.

Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan aku do'akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa ridha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT?. Ya Fathimah, apabil seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah SWT akan mengkaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.

Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah. Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat. Ya Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), "teruskanlah 'amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang". Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah SWT akan meringankan sakarotulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga seta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat".
Syarah 'Uquudil lijjaiin-Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani.

Puteri-Puteri Rasulullah SAW


1. ZAINAB BINTI RASULULLAH SAW.
Zainab adalah putri tertua Rasulullah SAW.. Rasulullah SAW. telah menikahkannya dengan sepupu beliau, yaitu Abul 'Ash bin Rabi' sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, atau ketika Islam belum tersebar di tengah-tengah mereka. lbu Abul 'Ash adalah Halah binti Khuwaylid, bibi Zainab dari pihak ibu. Dari pernikahannya dengan Abul 'Ash mereka mempunyai dua orang anak: Ali dan Umamah. Ali meninggal ketika masih kanak-kanak dan Umamah tumbuh dewasa dan kemudian menikah dengan Ali bin Abi Thalib ra. setelah wafatnya Fatimah ra.

Setelah berumah tangga, Zainab tinggal bersama Abul 'Ash bin Rabi' suaminya. Hingga pada suatu ketika, pada saat suaminya pergi bekerja, Zainab mengunjungi ibunya. Dan ia dapatkan keluarganya telah mendapatkan suatu karunia dengan diangkatnya, ayahnya, Muhammad SAW. menjadi Nabi akhir jaman. Zainab mendengarkan keterangan tentang Islam dari ibunya, Khadijah ra.. Keterangan ini membuat hatinya lembut dan menerima hidayah Islam. Dan keislamannya ini ia pegang dengan teguh, walaupun ia belum menerangkan keislamannya kepada suaminya, Abul 'Ash.

Sedangkan Abul 'Ash bin Rabi' adalah termasuk orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai peniaga. Ia sering meninggalkan Zainab untuk keperluan dagangnya. la sudah mendengar tentang pengakuan Muhammad sebagai Nabi SAW.. Namun, ia tidak mengetahui bahwa istrinya, Zainab sudah memeluk Islam. Pada tahun ke-6 setelah hijrah Nabi SAW. ke Madinah.

Abul 'Ash bin Rabi' pergi ke Syria beserta kafilah-kafilah Quraisy untuk berdagang. Ketika Rasulullah SAW. mendengar bahwa ada kafilah Quraisy yang sedang kembali dari Syria, beliau mengirim Zaid bin Haritsah ra. bersama 313 pasukan muslimin untuk menyerang kafilah Quraisy ini. Mereka menghadang kafilah ini di dekat Al-is di Badar pada bulan jumadil Awal. Mereka menangkap kafilah itu dan barang-barang yang dibawanya serta menahan beberapa orang dari kafilah itu, termasuk Abul 'Ash bin Rabi'. Ketika penduduk Mekkah datang unluk menebus para tawanan, maka saudara laki-laki Abul 'Ash, yaitu Amar bin Rabi', telah datang untuk menebus dirinya. Ketika itu, Zainab istri Abul 'Ash masih tinggal di Mekkah. la pun telah mendengar berita serangan kaum muslimin atas kafilah-kafilah Quraisy termasuk berita tertawannya Abul 'Ash.

Berita ini sangat meiiyedihkannya. Lalu ia mengirimkan kalungnya yang terbuat dari batu onyx Zafar hadiah dari ibunya, Khadijah binti Khuwaylid ra.. Zafar adalah sebuah gunung di Yaman. Khadijah binti Khuwaylid telah memberikan kalung itu kepada Zainab ketika ia akan menikah dengan Abul 'Ash bin Rabi'. Dan kali ini, Zainab mengirimkan kalung itu sebagai tebusan atas suaminya, Abul 'Ash. Kalung itu sampai di tangan Rasulullah SAW. Ketika beliau SAW. melihat kalung itu, beliau segera mengenalinya. Dan kalung itu mengingatkan beliau kepada istrinya yang sangat ia sayangi, Khadijah. Beliau berkata, 'Seorang Mukmin adatah penolong bagi orang Mukmin lainnya. Setidaknya mereka memberikan perlindungan. Kita lindungi orang yang dilindungi oleh Zainab. jika kalian bisa mencari jalan untuk niembebaskan Abul 'Ash kepada Zainab dan mengembalikan kalungnya itu kepadanya, maka lakukaniah.' Mereka menjawab, 'Baik, ya Rasulullah SAW' Maka mereka segera membebaskan Abul 'Ash dan mengembalikan kalung itu kepada Zainab.

Kemudian Rasulullah SAW. menyuruh Abul 'Ash agar berjanji untuk membiarkan Zainab bergabung bersama Rasulullah SAW. Dia pun berjanji dan memenuhi janjinya itu. Ketika Rasulullah SAW. pulang ke rumahnya, Zainab datang menemuinya dan meminta untuk mengembalikan kepada Abul 'Ash apa yang pernah diambil darinya. Beliau mengabulkannya. Pada kesempatan itu, Beliau pun telah melarang Zainab agar tidak mendatangi Abul 'Ash, karena dia tidak halal bagi Zainab selama dia masih kafir. lalu Abul 'Ash kembali ke Mekkah dan menyelesaikan semua kewajibannya. Kemudian dia masuk Islam dan kembali kepada Rasulutiah SAW sebagai seorang Muslim. Dia berhijrah pada bulan Muharram, 7 Hijriyah. Maka Rasulullah SAW. pun mengembalikan Zainab kepadanya, berdasarkan pernikahannya yang pertama.

Zainab wafat pada tahun 8 Hijriyah. Orang-orang yang memandikan jenazahnya ketika itu, antara lain ialah; Ummu Aiman, Saudah binti Zam'ah, Ummu Athiyah dan Ummu Salamah ra.. Rasulullah SAW. berpesan kepada mereka yang akan memandikan jenazahnya ketika itu, 'Basuhiah dia dalarn jumlah Vang ganjil, 3 atau 5 kali atau iebih jika kalian merasa lebih baik begitu. Mulailah dari sisi kanan dan anggota-anggota wudhu. Mandikan dia dengan air dan bunga. Bubuhi sedikit kapur barus pada air siraman yang terakhir. Jika kalian sudah selesai beritahukaniah kepadaku.' Ketika itu, rambut jenazah dikepang meniadi tiga kepangan, di samping dan di depan lalu dikebelakangkan. Setelah selesai dari memandikan jenazah, Ummu Athiyah memberitahukan kepada Nabi SAW. Lalu Nabi SAW memberikan selimutnya dan berkata, 'Kafanilah dia dengan kain ini.'



2. RUQAYYAH BINTI RASULULLAH SAW.
Ruqayyah telah menikah dengan Utbah bin Abu lahab sebelum masa kenabian. Sebenarnya hat itu sangat tidak disukai oleh Khadijah ra.. Karena ia telah mengenal perilaku ibu Utbah, yaitu Umrnu jamil binti Harb, yang terkenal berperangai buruk dan jahat. ta khawatir putrinya akan memperoleh sifat-sifat buruk dari ibu mertuanya tersebut. Dan ketika Rasulullah SAW. telah diangkat menjadi Nabi, maka Abu Lahablah, orang yang paling memusuhi Rasulullah SAW. dan Islam. Abu Lahab telah banyak menghasut orang-orang Mekkah agar memusuhi Nabi SAW. dan para sahabat ra.. Begitu pufa istrinya, Ummu Jamil yang senantiasa berusaha mencelakakan Rasulullah SAW. dan memfitnahnya. Atas perilaku Abu lahab dan permusuhannya yang keras terhadap Rasulullah SAW., maka Allah telah menurunkan wahyu-Nya, 'Maka celakalah kedu,7 tangan Abu lahab, (Al lahab: 1) Setelah ayat ini turun, maka Abu lahab berkata kepada kedua orang putranya, Utbah dan Utaibah, 'Kepalaku tidak haial bagi kepalamu selama kamu tidak menceraikan Putri Muhammad.' Atas perintah bapaknya itu, maka Utbah mericeraikan istrinya tanpa alasan. Setelah bercerai dengan Utbah, kemudian Ruqayyah dinikahkan oleh Rasulullah SAW. dengan Utsman bin Affan ra.

Hati Ruqayyah pun berseri-seri dengan pernikahannya ini. Karena Utsman adalah seorang Muslim yang beriman teguh, berbudi luhur, tampan, kaya raya, dan dari golongan bangsawan Quraisy. Setelah pernikahan itu, penderitaan kaum muslimin bertambah berat, dengan tekanan dan penindasan dari kafirin Quraisy. Ketika semakin hari penderitaan kaum muslimin, termasuk keluarga Rasulutlah SAW. bertambah berat, maka dengan berat hati Nabi SAW. mengijinkan Utsman beserta keluarganya dan beberapa muslim lainnya untuk berhijrah ke negeri Habasyah. Ketika itu Rasulullah SAW. bersabda, 'Pergilah ke negeri Habasyah, karena di sana ada seorang raja yang terkenal baik budinya, tidak suka menganiaya siapapun, Di sana adalah bumi yang melindungi kebenaran. Pergilah kalian ke sana. Sehingga Allah akan membebaskan kalian dari penderitaan ini.'

Maka berangkatlah satu kafilah untuk berhijrah dengan diketuai oleh Utsman bin Affan ra. Rasulullah SAW. bersabda tentang mereka, Mereka adalah orang yang pertama kali hijrah karena Allah setelah Nabi Luth as.' Setibanya di Habasyah mereka memperoleh perlakuan yang sangat baik dari Raja Habasyah. Mereka hidup tenang dan tenteram, hingga datanglah berita bahwa keadaan kaum muslimin di Mekkah telah aman. Mendengar berita tersebut, disertai kerinduan kepada kampung halaman, maka Utsman memutuskan bahwa kafilah muslimin yang dipimpimnya itu akan kembali lagi ke kampung halamannya di Mekkah. Mereka pun kembali. Namun apa yang dijumpai adalah berbeda dengan apa yang mereka dengar ketika di Habasyah. Pada masa itu, mereka mendapati keadaan kaum muslimin yang mendapatkan penderitaan lebih parah lagi. Pembantaian dan penyiksaan atas kaum muslimin semakin meningkat. Sehingga rombongan ini tidak berani memasuki Mekkah pada siang hari. Ketika malam telah menyelimuti kota Mekkah, barulah mereka mengunjungi rumah masingmasing yang dirasa aman. Ruqayyah pun masuk ke rumahnya, melepas rindu terhadap orang tua dan saudara-saudaranya.

Namun ketika matanya beredar ke sekeliling rumah, ia tidak menjumpai satu sosok manusia yang sangat ia rindukan. la bertanya, 'Mana ibu?..... mana ibu?....' Saudara-saudaranya terdiam tidak menjawab. Maka Ruqayyah pun sadar, orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu telah tiada. Ruqayyah menangis. Hatinya sangat bergetar, bumi pun rasanya berputar atas kepergiannya. Penderitaan hatinya, ternyata tidak berhenti sampai di situ. Tidak lama berselang, anak lelaki satu-satunya, yaitu Abdullah yang lahir ketika hijrah pertama, telah meninggal dunia pula. Padahal nama Abdullah adalah kunyah bagi Utsman ra., yaitu Abu Abdullah. Abdullah masih berusia dua tahun, ketika seekor ayam jantan mematuk mukanya sehingga mukanya bengkak, maka Allah mencabut nyawanya. Ruqayyah tidak mempunyai anak lagi setelah itu.

Dia hijrah ke Madinah setelah Rasulullah SAWj. hijrah. Ketika Rasulullah SAW. bersiap-siap untuk perang Badar, Ruqayyah jatuh sakit, sehingga Rasulullah SAW. menyuruh Utsman bin Affan agar tetap tinggal di Madinah untuk merawatnya. Namun maut telah menjemput Ruqayyah ketika Rasulullah SAW. masih berada di medan Badar pada bulan Ramadhan. Kemudian berita wafatnya ini dikabarkan oleh Zaid bin Haritsah ke Badar. Dan kemenangan kaum muslimin yang dibawa oleh Rasulullah SAW. beserta pasukannya dari Badar, ketika masuk ke kota Madinah, telah disambut dengan berita penguburan Ruqayyah ra. Pada saat wafatnya Ruqayyah, Rasulullah SAW. berkata, Bergabunglah dengan pendahulu kita, Utsman bin Maz'un.'

Para wanita menangisi kepergian Ruqayyah. Sehingga Umar bin Khattab ra. datang kepada para wanita itu dan memukuli mereka dengan cambuknya agar mereka tidak keterlaluan dalam menangisi jenazah Ruqayyah. Akan tetapi Rasulullah SAW. menahan tangan Umar ra. dan berkata, 'Biarkaniah mereka menangis, ya Umar. Tetapi hati-hatilah dengan bisikan syaitan. Yang datang dari hati dan mata adalah dari Allah dan merupakan rahmat. Yang datang dari tangan dan lidah adalah dari syaitan.'



3. UMMU KULTSUM BINTI RASULULLAH SAW.
Ummu Kultsum adalah adik Ruqayyah ra., putri Rasulullah SAW. Ia telah menikah dengan Utaibah bin Abu Lahab, saudara Utbah yang telah menikahi Ruqayyah, sebelurn mereka mengenal Islam. Lalu ketika Rasulullah SAW. telah diangkat menjadi Nabi, ia dan saudara-saudaranya memeluk Islam dengan lapang dada. Dan dakwah Nabi SAW. yang selalu ditentang oleh Abu lahab beserta keluarganya ini, menyebabkan Allah telah mewahyukan kepada Nabi SAW. firman-Nya yang berbunyi, Maka celakalah kedua tangan Abu lahab'(Al-lahab: 1) ' Setelah tutun ayat ini, Abu lahab berkata kepads Utaibah anaknya, "Kepalaku tidak halal bagi kepalamu selama kamu tidak menceraikan putri Nabi. Maka dia pun menceraikan istrinya, Ummu Kultsum begitu saja. Utaibah mendatangi Nabi SAW. dan mengatakan kata-kata yang menyakitkan hati Rasulullah SAW. Atas periakuan itu, maka Rasulullah SAW. telah berdoa kepada Allah, agar mengirimkan anjing-anjing-Nya untuk membinasakan Utaibah. Dan apa yang telah didoakan oleh Nabi SAW. terhadap Utaibah itu benar-benar teriadi.

Dalam suatu perjalanan, seekor singa yang ganas teiah memilih Utaibah di antara teman-temannya untuk diterkam kepalanya. Utaibah mati dalam keadaan yang sangat mengerikan. Setelah bercerai, maka Ummu Kultsum kembali tinggal bersama Rasulullah SAW. di Mekkah. Dia ikut hijrah ke Madinah ketika Rasulullah SAW. berhijrah, kemudian tinggal di sana bersama keluarga Rasulullah SAW. Ruqayyah dan Ummu Kultsum adalah dua orang saudara yang perjalanan hidup mereka hampir sama. Mereka berdua teriahir dari bapak yang sama, ibu yang sama, suami mereka pun kakak beradik yang namanya mempunyai arti yang sama; Utbah dan Utaibah, mempunyai mertua yang sama, masuk Islam pada hari yang sama, bercerai pada hari yang sama, dan setelah perceraian itu, mereka mempunyai suami yang sama pula.

Ketika Ruqayyah meninggal dunia, maka Utsman bin Affan ra. menikahi Ummu Kultsum yang masih perawan yang belum terjamah oleb Utaibah. Pada waktu itu adalah bulan Rabi'ul-Awwal, tahun ke-3 Hijriyah. Dan keduanya baru berkumpul pada bulan Jumadits-Tsani. Mereka hidup bersama sampai Ummu Kultsum meninggal dunia tanpa mendapatkan seorang anak pun. Ummu Kultsum meninggal dunia pada bulan Sya'ban tahun ke-9 Hijriyah. Rasulullah SAW. berkata, 'Seandainya aku mempunyai sepuluh orang putri, maka aku akan tetap menikahkan mereka dengan Utsman.' Ummu Kultsum adaiah seorang wanita yang cantik. la senang memakai jubah sutra yang bergaris. Pada hari wafatnya, jenazahnya telah dimandikan oleh Asma' binti Umais dan Shafiah binti Abdul Muthalib. jenazahnya ditempatkan di atas sebuah keranda yang terbuat dari batang polgon palem yang baru dipotong. Dan pada saat penguburannya, Rasulullah SAW. duduk di dekat kuburan Ummu Kultsum dengan berlinangan air mata. Beliau berkata, siapa di antara kalian yang tidak bercampur dengan istrinya tadi malam?' Abu Thalhah ra. berkata, 'Aku, ya Rasulullah SAW' lalu Beliau menyuruhnya, "Turunlah kamu." Maka Abu Thalhah turun dan menguburkan Ummu Kultsum ra.



4. FATIMAH BINTI RASULULLAH SAW.
Pada suatu ketika, Abu Bakar ra. pernah datang kepada Rasulullah SAW. dan meminang Fatimah ra. untuk dijadian sebagai istrinya. Hal itu dijawab oleh Beliau SAW. dengan halus, "Wahai Abu Bakar, tunggulah ketetapan tentang Fatimah.' Jawaban Rasulullah SAW. ini diceritakan oleh Abu Bakar ra. kepada Umar bin Khattab ra.. Umar berkata, itu artinya beliau menolakmu, wahai Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar ra. menyarankan kepada Umar ra, 'Sekarang cobalah kamu yang menanyai Rasulullah SAW. untuk meminang Fatimah.' Atas anjuran tersebut, maka Umar ra. pergi menjumpai Rasulullah SAW. dan meminta kepada Beliau SAW. untuk menikahkan Fatimah ra. dengannya. Pada kali itu pun Rasulullah SAW. menjawab, 'Wahai Umar, Tunggulah ketetapan tentangnya.' Setelah dijawab demikian, Umar ra. menemui Abu Bakar dan menceritakan hal ini kepadanya. 'Berarti beliau juga telah menolakmu wahai Umar.' Kata Abu Bakar ra.. Selanjutnya keluarga Ali ra. telah menyarankan kepada Ali ra., 'Mintalah kepada Rasulullah SAW. agar kamu dapat meminang Fatimah.' Maka Ali ra. mendatangi Rasulullah SAW. untuk meminang Fatimah. Pinangan ini diterima oleh beliau dengan baik. Dan pada hari itu juga Rasulullah SAW. telah menikahkannya dengan Fatimah ra. dengan mahar beberapa pakaian bekas dan kulit domba.

Dan ketika itu, perlengkapan pengantin wanitanya antara lain adalah tempat tidur dari dedaunan kurma, bantal kulit berisi jerami, bejana kulit kecil dan kantong air dari kulit. Untuk pernikahan itu, Ali ra. telah menjual seekor unta miliknya dan sebagian barang-barangnya, sehingga terkumpul 480 dirham. Setelah terkumpul Rasulullah SAW. menyuruh Ali, "Belikaniah dua pertiga dari uang itu untuk wangi-wangian dan yang sepertiganya untuk barang-barang.' Setelah menikahi Fatimah, maka Nabi SAW. berkata kepada Ali ra., 'Carilah rumah'. Maka Ali pun mencari sebuah rurnah untuk tempat tinggainya bersama keluarga baru. la menemukan sebuah rumah yang agak jauh dari kediaman Rasulullah SAW. Karena rasa sayang Rasulullah SAW. kepada Fatimah, beliau berkata kepada Fatimah, 'Aku ingin kalian pindah agar berdekatan denganku.' Fatimah menjawab, 'Sebaiknya ayahanda, meminta kepada Haritsa bin Nu'man untuk pindah demi aku.' Rasulullah SAW. menjawab, 'Haritsa dulu pernah pindah demi kita, jadi aku enggan untuk memintanya kembali.' Hal ini telah terdengar oleh Haritsa, sehingga ia datang menemui Rasulullah SAW. dan berkata, 'Ya Rasulullah SAW, aku telah mendengar bahwa engkau ingin agar Fatirnah pindah ke dekat rumahmu. Rumah-rumahku adalah rumah Bani Najjar yang paling dekat ke rumahmu. Aku dan hartaku adalah untuk Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, Ya Rasulullah SAW. aku lebih menyukai uang yang engkau ambil dariku daripada yang tinggal.' Rasulullah SAW. berkata, 'Engkau telah berkata dengan sebenarnya, semoga Allah memberkatimu.' Maka Rasulullah SAW. memindahkan Fatimah ke rumah Haritsa.

Ali dan Fatimah ra. adalah pasangan suami istri yang hidup dengan penuh kesederhanaan. Tempat tidur mereka terbuat dari kulit domba. jika mereka akan tidur, mereka harus membalikkan bulunya terlebih dahulu. Sedangkan bantainya terbuat dari kulit yang diisi jerami. Walaupun demikian, hari-hari mereka telah diisi dengan kebahagiaan. Pada suatu ketika, Fatimah berkata, 'Demi Allah, aku telah menumbuk gandum sampai tanganku lecet.' Maka Ali ra. menganjurkan kepada istrinya, agar menjumpai Rasulullah SAW. untuk meminta tawanan-tawanan perang sebagai pembantu di rumahnya. Fatimah pun segera menemui Rasulullah SAW.. Sesampainya di sana, banyak sahabat sedang berkumpul di sisi Rasulullah SAW.. Rasulullah SAW. bertanya, 'Ada apa, wahai putriku?' Fatimah menjawab, 'Aku datang untuk mengucapkan salam untukmu.' Fatimah terlalu segan untuk mengutarakan maksudnya, sehingga ia kembali pulang tanpa tertunaikan maksud kedatangannya. Sesampainya di rumah Ali bertanya, "Bagaimana haslinya?' Fatimah menjawab, 'Aku terlalu malu untuk meminta kepada beliau.' Kemudian mereka berdua datang menghadap Rasulullah SAW.. Ali ra. berkata, 'Ya Rasulullah SAW., Fatimah telah menimba air sampai dadanya luka.ia telah menumbuk (gandum) sampai tangannya lecet. Dan Allah telah memberimu rampasan perang dan kekayaan, berilah kami seorang pelayan.' Namun Rasulullah SAW. menjawab, 'Demi Allah, aku tidak akan memberimu pelayan, dan membiarkan ahli Shuffah menahan perutnya karena kelaparan. Aku tidak mempunyai sesuatu untuk mereka, jadi aku akan menjual barang rampasan itu dan memberikannya kepada mereka. Maukah kalian kuceritakan sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta tadi? Mereka menjawab, 'Ya, tentu saja.' Beliau berkata, 'Yaitu beberapa kalimat yang diajarkan Jibril kepadaku. Ketika kalian beristirahat di tempat tidur ucapkanlah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali. Dan nasehat itu telah menjadi amalan rutin keluarga Fatimah ra.

Ali ra. berkata, 'Demi Allah, aku tidak pernah mengabaikan bacaan itu sejak Rasulullah SAW. mengajarkannya kepada kami.' lbnu Kiwa' berkata kepadanya, 'Bahkan pada malam perang Siffin?' Ali menjawab, 'Semoga Allah murka pada kalian, wahai penduduk lrak.

Suatu ketika, Ali ra. pernah berbuat kasar kepada Fatimah ra. Lalu Fatimah ra. mengancam Ali ra., Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah SAW.!' Fatimah pun pergi kepada Nabi SAW. dan Ali ra. mengikutinya. Sesampainya di sana, Fatimah mengeluhkan tentang kekasaran Ali ra.. Nabi SAW. menyabarkannya, 'Wahai putriku, dengarkanlah, pasang telinga dan pahami. Bahwa tidak ada kepandaian sedikit pun bagi wanita yang tidak membalas kasih sayang suaminya ketika dia tenang.' Ali ra. berkata, 'Kalau begitu aku akan menahan diri dari yang telah kulakukan.' Fatimah pun berkata, Demi Allah, aku tidak akan berbuat apapun yang tidak engkau sukai.'

Juga disebutkan dalam riwayat lain, Pernah terjadi pertengkaran antara Ali dan Fatimah. Lalu Rasulullah SAW. datang, dan Ali ra. menyediakan tempat untuk Rasulullah SAW. berbaring. Kemudian Fatimah datang dan berbaring di samping Nabi SAW.. lalu Ali pun berbaring di sisi lainnya. Rasulullah SAW. mengambil tangan Ali dan meletakkannya di atas perut beliau, lalu beliau mengambil tangan Fatimah dan meletakkannya di atas perut beliau. Selanjutnya beliau mendamaikan keduanya sehingga rukun kembali, Setelah itu barulah beliau keluar. Ada orang yang melihat kejadian itu lalu berkata kepada Rasulullah SAW., 'Tadi engkau masuk dalam keadaan demikian, lalu engkau keluar dalam keadaan berbahagia di wajahmu.'Beliau menjawab, 'Apa yang menahanku dari kebahagiaan, jika aku dapat mendamaikan kedua orang yang paling aku cintai?'

Pada suatu ketika, 'Aisyah ra. sedang duduk bersama Rasulullah SAW., kemudian datanglah Fatimah dengan gaya berjalannya yang sama dengan gaya berjalan Rasulullah SAW. Nabi SAW. menyambutnya, 'Selamat datang, Putriku.' Lalu Beliau mendudukkan Fatimah di sampingnya dan membisikkan sesuatu kepadanya sehingga Fatimah menangis. Kemudian beliau kembali membisiki lagi kepada Fatimah, dan dia tertawa. Melihat hal ini, 'Aisyah bertanya, 'Mengapa engkau menangis lalu tertawa setelah dibisiki oleh Rasulullah SAW. Apa gerangan yang telah dibisikkan Rasulullah SAW. kepadamu?' Fatimah menjawab, 'Aku tidak akan membuka rahasia beliau.'

Ketika Rasulullah SAW. wafat, 'Aisyah bertanya lagi kepada Fatimah, dan ia menjawab, 'Rasulullah SAW. membisikiku, 'Jibril selalu mendatangiku setiap tahun dan mengulangi Al-Qur'an kepadaku satu kali. Namun, pada tahun ini dia datang kepadaku dua kaii dan membacakan Al-Qur'an kepadaku dua kali. Aku merasa ajalku sudah dekat. Aku penghulu terbaik bagimu.' Maka aku menangis. Lalu Beliau membisikkan lagi, 'Engkau orang yang paling cepat menyusulku dari keluargaku.' Maka aku tertawa karenanya.

Pada hari-hari menjelang kematiannya, Fatimah disrerang sakit yang parah. Abu Bakar ra. pergi mengunjungi Fatimah dan meminta izin untuk masuk. Maka Ali berkata kepada istrinya, Fatimah, 'Ada Abu Bakar di depan pintu. Apakah engkau mengizinkannya masuk?' Fatimah ra. mengembalikan pertanyaan itu kepada suaminya, 'Apakah engkau setuju?' 'Ya,' jawab Ali. Maka Abu Bakar ra. masuk untuk mengunjunginya dan menghiburnya sehingga membuat Fatimah senang. Dan pada ketika sakitnya itu, Salma datang menengoknya. Sedangkan pada hari itu Ali ra. sedang keluar. Fatimah berkata kepada Salma, 'Tuangkaniah air untuk mandiku.' Maka Salma menuangkan air untuk mandi Fatimah dengan cara yang terbaik. Kemudian Fatimah berkata, 'Bawakantah bajuku yang baru.' Maka Salma memberikan pakaian baru kepadanya dan dia pun mengenakannya. Kemudian Fatimah berkata lagi, 'Angkatlah tempat tidurku ke tengah-tengah ruangan.' Salma memindahkannya, lalu dia berbaring menghadap kiblat. Kemudian Fatimah berkata kepada Salma, 'Ibu, aku akan menemui ajal sekarang. Aku telah mandi, jadi jangan biarkan orang lain membuka bahuku.' Salma bercerita, 'Fatimah telah wafat.

Kemudian Ali datang dan aku mengabarkan hal itu kepadanya.' Ali ra. berkata, 'Demi Allah, tidak seorang pun yang akan membuka bahunya.' Dia mengangkat jenazah Fatimah dan menguburkannya dengan mandi itu.